Kamis, 01 April 2010

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan fakta utama. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru banyak sekali memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebagai seorang guru. Yang dimaksud dengan guru ideal ialah mereka yang berhasil dalam memerankan peranan-peranan itu dengan sebaik-baiknya, yang artinya dapat menunjukkan sesuatu pada tingkah laku yang sesuai dengan jabatannya dan dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakatnya.1

Guru mempunyai peranan penting dalam mendidik para siswa. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatannya di dalam sekolah maupun diluar sekolah.

B. Rumusan Masalah

Pada dasarnya sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa guru yang ideal itu sudah tidak ada lagi. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?, hal itu terjadi karena banyaknya masyarakat yang belum tahu persis tentang guru, mereka menganggap guru hanya sekedar pegawai negeri saja, padahal itu salah sekali.

Dengan tidak adanya guru yang ideal kita tidak mungkin menjadi seorang mahasiswa seperti sekarang ini. Oleh karena itu, semua guru adalah guru ideal, tetapi tidak semua guru begitu, ada juga guru yang tidak patut untuk dicontoh.

C. Tujuan Penulisan

 Memenuhi tugas matakuliah Psikologi pendidikan
 Agar lebih mengetahui tentang sosok guru yang ideal, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi yang membaca.


















BAB II
PEMBAHASAN

A. Peran Guru dalam Pendidikan

Seorang guru yang kreatif tidak hanya dituntut memiliki keahlian dalam bidang akademik, namun lebih dari itu seorang guru juga dituntut untuk dapat menguasai berbagai teknik yang dapat mendorong rasa keingintahuan sekaligus dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri setiap siswanya. Guru harus dapat memberikan dorongan pada saat siswa membutuhkannya dan memberikan keyakinan kepada siswanya pada saat dia merasa harga dirinya terancam.

Dalam melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru harus dapat menjaga keseimbangan antara struktur pembelajaran dengan kesempatan pengembangan diri siswa, antara pengelolaan kelompok (management of groups) dengan perhatian terhadap perbedaan individual siswanya.2

Untuk menjadi guru kreatif memang bukan hal yang mudah. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru. Tentunya juga banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi kurang dan bahkan tidak kreatif, baik yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri (internal factors) maupun faktor eksternal. Oleh karena itu, agar guru dapat menjadi kreatif perlu diperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakanginya.
Kepemimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam mengembangkan kreativitas guru maupun kreativitas sekolah secara keseluruhan. Fred Luthans (1995) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang manajer. Dalam hal ini, kepala sekolah dalam hal ini selaku Supervisor bagi guru dituntut untuk dapat menciptakan budaya dan iklim kreativitas di lingkungan sekolah yang mendorong seluruh warga sekolah untuk mengembangkan berbagai kreativitas dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Kepala sekolah harus dapat memberikan penghargaan kepada sertiap usaha kreatif yang dilakulan oleh anggotanya, terutama usaha kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah juga dituntut untuk dapat menyediakan sumber-sumber bagi pertumbuhan kreativitas di sekolah. 3

Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa siswa yang kreatif dapat dihasilkan melalui guru yang kreatif, dan guru yang kreatif dapat dihasilkan melalui kepala sekolah yang kreatif. Dan antara kepala sekolah, guru dan siswa harus saling mendudkung. Siswa yang kreatif merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan diri pribadinya maupun orang lain.

B. Guru yang Ideal ditinjau dari Pendekatan Psikologis

Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi paedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik” 4

Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya adalah sebagi berikut :
a. Bidang Peningkatan mutu pendidikan
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.

3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.

Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.

4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.

Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.

5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.

Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.

6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.

7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.

Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil penilaian. 5

b. Bidang Peningkatan ProfesionalismePribadi

1. Secara terus menerus meningkatkan dan mengembangkan Profesionalismenya

Seorang guru harus secara terus menerus meningkatkan profesionalismenya dengan cara meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimilikinya dengan cara formal maupun informal untuk memberikan atau meningkatkan pelayanan secara optimal kepada peserta didiknya. Artinya guru mengikuti berbagai pendidikan lanjutan atau kursus yang sesuai dengan bidang tugas, keinginan, waktu, dan kemampuannya. Secara informal guru dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui mass media seperti televisi, radio, majalah ilmiah, koran, internet dan sebagainya, atau pun membaca buku teks dan pengetahuan lainnya yang cocok dengan bidangnya.

2. Berusaha meningkatkan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal pelayanan pendidikan yang akan diberikan kepada para peserta didik.

3. Komitmen dengan pekerjaannya
Jika seseorang telah menentukan karier pilihannya, sudah sepantasnya akan mencintai pekerjaannya dengan penuh komitmen dan dengan sepenuh hati Artinya, ia akan berbuat apa pun agar kariernya berhasil baik, ia berkomitmen dengan pekerjaannya. Ia harus mau dan mampu melaksanakan tugasnya serta mampu melayani dengan baik

4. Memberikan Suri tauladan terhdapa peserta didik

Guru harus merupakan figur yang dapat dicontoh oleh murid-muridnya, sebab akan menjadi teladan bagi murid-muridnya. Usaha penanaman nilai-nilai kehidupan melalui pendidikan tidak akan berhasil, kecuali jika peranan guru tidak hanya sekedar komunikator nilai, melainkan sekaligus sebagai pelaku nilai yang menuntut adanya rasa tanggung jawab dan kemampuan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang utuh. Sebab salah satu bagian terpenting dari kegiatan pendidikan adalah memberikan teladan. Oleh karena itu dalam memberikan ilmu kepada muridnya, seorang guru dituntut untuk memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang diajarkan dalam kehidupan pribadinya.
Dengan kata lain, seorang guru harus konsekuen serta konsisten dalam menjaga keharmonisan antara ucapan, larangan, dan perintah dengan amal perbuatannya sendiri. Selain itu, sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru berbuat yang tidak baik atau kurang baik, akan mengurangi kewibawaannya dan kharisma pun secara perlahan lebur dari jati diri. 6

Dari uraian di atas maka akan timbul pertanyaan, bagaimana dengan guru yang ada di indonesia, apakah sudah ideal ataukah belum ? jika kriteria-kriteria sebagaimana tersebut di atas sudah dapat terpenuhi maka dapat dikatakan guru – guru yang ada di Indonesia sudah ideal. Sebagaimana disebutkan di awal makalah tadi bahwa semua guru adalah ideal jika tidak maka kita tidak akan bisa seperti saat sekarang ini, akan tetapi ”tidak semuanya” ideal. Masih banyak guru-guru yang harus terus dan terus meningkatkan profsionalismenya sebagai seorang guru hal ini dikarenakan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika seorang guru tidak mengikuti perkembangan zaman maka guru tersebut akan ketinggalan zaman.

Lalu bagaimana dengan guru yang kurang ideal dan tidak mau tahu tentang pentingnya peningkatan profesi guru ? hal ini dapat kita tinjau kembali dari psikologis dasar guru itu sendiri apakah di dalam dirinya masih ada motivasi untuk berkembang atau tidak. Karena motivasi itu juga merupakan konsep penting bagi seorang guru. Jika seorang guru mulai melupakan sendi-sendi penting pendidikan maka guru tersebut akan kehilangan komitmen dan motivasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik. Hal ini juga bisa disebabkan oleh beberapa hal. Maka yang bertanggungjawab penuh atas guru tersebut adalah supervisor pendidikan.

Sudah selayaknya para guru berintrospeksi diri atas komitmen dan motivasi yang ada dalam dirinya. Sudah ideal ataukah belum menjadi tuntutan publik. Jika memang merasa kurang ideal maka harus terus menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Diharapkan setiap guru menjadi ideal dan profesional demi meningkatkan dan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diharapkan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang.










BAB III
SIMPULAN

Dari apa yang telah diterangkan di atas maka dapat diambil kesimpulan – kesimpulan sebagai berikut :
1. Seorang guru memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan pendidikan peserta didiknya yang mampu menjadi sosok atau figur yang dapat mengontrol baggi siswanya.
2. Guru mempunyai peranan penting dalam mendidik para siswa. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatannya di dalam sekolah maupun diluar sekolah.
3. Guru yang ideal yaitu guru yang mampu memberikan rasa nyaman dan aman kepada siswanya dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa dengan keberadaan guru yang ideal diharapkan mampu mengoptimalkan segala bakat dan kemampuan siswa.
4. Guru yang ideal adalah guru yang terus menerus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan serta profesionalisme yang dibutuhkan.
5. Seorang guru harus dapat memberikan suri tauladan kepada peserta didik baik dalam sosial kemasyarakatan maupun dalam perilaku dan sikap.








DAFTAR PUSTAKA


http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/psikologi-pendidikan-dan-guru/
Mulyadi Sri Kamulyan, Kemampuan Dasar Mengajar dalam Pembelajaran (Surakarta, Rahajeng, 2005) hal 27
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung, Sinar Baru, 2003)
http://www.acehinstitute.org/opini_zahrila_aktualisi_pendidikan.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar