Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 01 April 2010

PROFIL IDEAL SEORANG GURU DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

PROFIL IDEAL SEORANG GURU DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
(Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Islam)
Oleh: Muliadi Kurdi, S.Ag, M.Ag


Abstrak

Salah satu faktor keberhasilan proses belajar mengajar itu sangat tergantung pada profil ideal seorang guru. Guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik. Kualitas seorang guru itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan ketika beradaptasi dengan subjek didik. Dalam pendidikan Islam seorang guru tidak hanya dituntut memiliki skill labour dalam penyajian materi, tapi harus mempunyai akhlakul karimah. Akhlakul karimah yang dimiliki oleh seorang guru itu dapat mengotrol emosionalnya ketika menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, dan tidak destruktif. Seorang guru tidak mempunyai nilai apa-apa di depan murid bahkan masyarakat sekalipun jika tidak mempunyai moral. Dari sini ada istilah, “al-adabu fauqa al-Ilm” artinya kedudukan moral itu di atas ilmu pengetahuan. Dengan dibekali moralitas seorang guru itu menjadi kunci keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak. Karena guru merupakan figur terbaik dalam pandangan anak yang akan dijadikan sebagai teladan dalam kehidupannya. Jika seorang guru mempunyai karakter seperti itu, akan disenangi oleh peserta didik, dengan sendirinya akan disenangi ilmu pengetahuan yang diajarkannya.


A) Pendahuluan

Suri teladan tidak hanya ditampilkan di depan murid-murid, tapi seorang guru harus mampu menampilkannya di depan masyarakat bahkan dalam semua aspek kehidupan. Bahagian dari keberhasilan pendidikan itu sangat tergantung pada nilai-nilai ideal seorang guru. Seorang guru harus merasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek ketrampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewatahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).
Keintelektulitas seorang guru tidaklah mempunyai nilai apa-apa dalam pandangan Islam jika tidak didasari pada moralitas. Sehingga ada istilah, “Al-Adabu Fauqa al-Ilm” artinya kedudukan moral itu di atas ilmu pengetahuan. Karena itu, moral merupakan salah satu faktor keharusan dalam melakukan transpormasi ilmu pengetahuan kepada anak didik.
Mahdi Ghulsyani dalam karyanya, “Filsafat Sains Menurut Al-Quran”, mengatakan bahwa guru merupakan kelompok manusia yang memiliki fakultas penalaran, ketaqwaan dan pengetahuan. Di samping itu Mahdi Ghulsyani juga menyebutkan karakteristik guru antara lain adalah memiliki moral, mendengarkan kebenaran, mampu menjauhi kepalsuan ilusi, menyembah Tuhan, bijaksana, menyadari dan mengambil pengalaman-pengalaman.
Al-Quran sebagai landasan paradigma pemikiran pendidikan Islam, telah banyak mengungkapkan analisir kependidikan yang memerlukan perenungan mendalam, terutama bagi praktisi pendidikan. Pemikiran pendidikan yang berlandaskan kepada wahyu Tuhan menuntut terwujudnya suatu sistem pendidikan yang komprehensif, meliputi ketiga pendekatan dalam istilah ilmu pendidikan yaitu cognitive, affective dan psycomotoric yang nantinya akan mampu melahirkan pribadi-pribadi pendidik yang akan berperan dalam menginternalisasikan nilai-nila Islam dan mampu mengembangkan peserta didik ke arah pengamalan nilai-nilai Islam secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi realitas wahyu Tuhan.
Menelusuri karakter kependidikan yang berlandaskan pada pendekatan nilai-nilai Al-Quran saat ini, jauh sebagaimana diharapkan. Banyak dari pendidik hanya menonjolkan aspek kemampuan intelektualitas belaka (cognitive) dan meninggalkan nilai-nilai etika (affective domain). Hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Al-Quran, yang mengajarkan keseimbangan dalam segala hal. Suatu sistem pendidikan yang baik adalah sistem pendidikan yang dapat memadukan tiga aspek tersebut dengan cara mentransferkan pengetahuan serta mewariskan nilai-nilai bagi peserta didik dan generasi selanjutnya. Maka keharusan melahirkan kalangan yang dapat berperan sebagai medium (pendidik) dalam proses pentransferan ilmu, itupun menjadi suatu keniscayaan.
Dari kesenjangan ini, perlu adanya pengkajian kembali nilai-nilai pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Penjelasan ini diharapkan akan menjadi sebuah solusi dan menjadi sebuah bahan renungan bagi para pendidik, guru dan orang-orang yang concern terhadap kepembangunan pendidikan di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam.

B) Reaktulisasi Profil Seorang Guru Ideal

Keberhasil pendidikan tergantung dari banyak faktor, namun yang terpenting di antara faktor-faktor tersebut adalah sumber daya seorang guru dalam melakukan transpormasi ilmu kepada murid. Dalam angkatan bersenjata faktor ini disebut dengan “the man behind the gun”. Orang-orang militer berpendapat bahwa bukan senjata yang memenangkan perang, tetapi sedadu yang memegang senjata itu. Sedadu tidak akan memanangkan suatu pertempuran apabila tidak menguasai strategi perang.
Hal ini lebih-lebih lagi dalam bidang pendidikan, yang sangat membutuhkan pada “labour intensive” yaitu lapangan yang banyak sekali menyerap tenaga manusia. Guru harus memiliki “skill labour” yaitu tenaga terdidik atau terlatih dengan kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan subjek didik. Seorang guru harus menjadi figure dan pemeran utama dalam penyuksesan pendidikan bagi anak didik. Untuk mencapai ke arah itu, seorang pendidik tidak cukup hanya dengan membekali ilmu pengetahuan, namun harus mencerminkan akhlak yang baik seperti diajarkan oleh Rasulullah saw.
Muhammad ‘Abd al-Qadir Ahmad menuturkan bahwa Rasul sosok sang pendidik, para sahabat sebagai subjek didik kala itu menangkap teladan yang luhur pada dirinya, berakhlak baik, memiliki ilmu dan memiliki keutamaan dalam semua gerak-geriknya.
Jika seorang pendidik mempunyai karakter seperti di atas, akan disenangi oleh peserta didik, dengan sendirinya akan disenangi ilmu pengetahuan yang diajarkannya. Muhammad ‘Abd al-Qadir mengatakan, “Banyak siswa yang membenci suatu ilmu atau materi pelajaran karena watak guru yang keras, akhlak guru yang kasar dan cara mengajar guru yang sulit. Di pihak lain banyak pula siswa yang menyukai dan tertarik untuk mempelajari suatu ilmu atau mata pelajaran, karena cara perlakuan yang baik, kelembutan dan keteladanannya yang indah.”
Tugas ini merupakan suatu pekerjaan yang berat dan sulit dicapai oleh seseorang, apabila ia tidak mempunyai karakter pendidik. Seorang pendidik mumpunyai sifat-sifat terpuji dan mampu menyesuaikan diri baik dengan peserta didik maupun dengan masyarakat. Sikap seperti inilah barangkali yang diketengahkan al-Quran dengan ungkapan ulul albab.
Ulul albab dikonotasikan dengan cendikiawan Muslim, intelektual muslim, ulama bahkan Ali Syariati menyebutkannya dengan orang yang “tercerahkan.” Sebanyak 16 kali dalam al-Quran kata ulul albab itu diungkapkan sebagai sosok yang hanya insan takut kepada Allah (Qs. 2: 179, 197; 65: 10; 13: 21), banyak berzikir (Qs. 3: 190), memperoleh hikmah (Qs. 2: 269), sanggup mengambil pelajaran dari umat terdahulu (Qs. 12: 111, 39: 18), bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (Qs. 3: 7), dengan merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi (Qs. 3: 190, 39: 21) dan mengambil pelajaran dari kitab yang diwahyukan Allah (Qs. 38: 29, 40: 54), sanggup sendirian mempertahankan pendirian/berkeyakinannya dan tak terpesona dengan bilangan banyak dalam kejelekan (Qs. 5: 100), berusaha menyampaikan peringatan Allah kepada masyarakat dan mengajari mereka prinsip tauhid (Qs. 14: 52), memenuhi janji kepada Allah, menyambung apa yang diperintahkan Allah, menghubungkannya, bersabar, memberi infak dan menolak kejelekan dengan kebaikan (Qs. 13: 19-22), serta bangun tengah malam yang diisi dengan ruku’ dan sujud di hadapan Allah (Qs. 39: 9).
Dari beberapa penjelasan ayat di atas, dapat dipahami bahwa makna ulul albab itu indentik dengan pendidik kebajikan dan para guru. Mereka mempunyai pengetahuan, tanggung jawab moral dalam mendidik, dan selalu berfikir ke arah kemajuan (positive thinking). Jabatan ini tidaklah mudah diperoleh dan dijalankan kalau bukan Allah swt., telah memilih dan membedakannya dari yang lain. Mereka mempunyai karakter keteladanan dan kelembutan dalam menyampaikan kebajikan terutama kepada anak didik dan masyarakat.
Soetjipto Wieosardjono memaknai istilah ulul albab itu dengan cendikiawan Muslim yakni, “…para intelektual yang berakar budaya Islam. Pertama-tama mereka intelektual atau cendikiawan, karena mereka bersekolah secara formal pada tingkat pendidikan lanjut, bahkan umumnya menyelesaikan dengan baik pendidikan Doktor atau tingkat sarjana dan pasca sarjana. Tetapi terutamanya mereka sangat sarat berakar budaya Islam; umumnya anak atau cucu santri atau bahkan kiyai, dibesarkan di pesantren atau di pedesaan dengan kehadiran pesantren di situ. Kalau mereka dilahirkan dan dibesarkan di kota, umumnya orang tuanya atau tinggal di belakang mesjid, mereka mengamalkan syari’at Islam bukan hanya sebagai bagian dari peradaban dan “a matter of couse,” tetapi dengan khidmad dan “burning quest”. Bila ciri-ciri itu ditarik lebih lanjut, maka sebagai common denominator, adalah bahwa tatkala masa remajanya, mereka pemimpin gerakan mahasiswa atau pelajar Islam. Tatkala menginjak dewasa dan matang, mereka berkembang menjadi budayawan serta aktivitas sosial yang merujuk ajaran Islam sebagai pelita penggerak semangat pengorbannnya.”
Seorang guru yang telah dipilih dan dikategorikan al-Quran menjadi ulul albab harus memiliki karakter berbeda dengan yang lain. Di antara karakter itu adalah berakhlak mulia, peka terhadap persoalan-persoalan yang menimpa dunia pendidikan dan rela berkorban dalam mempertahankan agama atau kebenaran. Terkait dengan masalah ini, Soetjipto, M.M. Rachmat Kartakusuma memberi makna tentang ulul albab, menurutnya adalah cendikiawan yaitu orang yang pada waktu-waktu tertentu mengambil jarak dengan hidup serta kehidupan, dengan masyarakat dan diri sendiri, untuk merenungkannya, dan menganalisanya. Cendikiawan memerlukan erudasi, terpelajar dan berpengetahuan umum yang luas. Cendikiawan mestilah seorang “generalis”, bukan “spesialis” dalam suatu cabang ilmu tertentu. Selanjutnya ia harus memiliki daya fakir atau intelegensia yang kuat, daya pengamat (observasi) yang tajam, daya analisa dan sintesa. Karena itu cendikiawan bukan saja seringkali tetapi malah selalu menjadi perintis perubahan zaman. Perbedaannya dengan yang lain terletak pada kadar perubahan itu. Ada yang revolusioner dan spektakuler, ada yang tidak. Cendikiawan adalah pembaharu dan pembimbing masyarakat. Itu semua terjadi karena rasa tanggung jawabnya dalam hidup ini. Orang yang tidak memiliki rasa itu bukan cendikiawan, akan tetapi hanya intelectueel jongleur, tukang sulap intelektuil, ahli kata, silat kata dan pikiran.”
Seorang guru yang terdidik, terlatih dan memiliki cirri-ciri tersebut dapat dikatakan sebagai cendikiawan dan ia tidak hanya terbatas pada memikirkan melainkan selalu berusaha mengadakan perubahan, pembaharuan, dan membimbing anak didik dan masyarakat ke arah yang lebih maju. Dengan sikap dan cara pendekatan yang obyektif dan berdasarkan metode ilmiah, mereka selalu mempertanyakan sesuatu dalam usaha mencapai kebenaran hakiki. Itulah sebabnya guru dalam kontek cendikiawan seringkali tampil sebagai pengeritik dalam masyarakatnya. Untuk mencapai ke arah itu, harus bersedia mengorbankan dan mendarmabaktikan segala potensi demi kepentingan subjek didik dan masyarakat.
Kepekaan seorang guru seperti disebutkan dalam kontek cendikiawan di atas, dituntut selalu menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan mengayomi masyarakat ke jalan yang benar. Mereka selalu bertanya dan berfikir terhadap penomena alam, fenomena subjek didik dan kehidupan masyarakat dengan menggunakan metode ilmiah. Dari metode itulah dihasilkan kebenaran yang terkadang bertentangan dengan praktek kehidupan, adanya kebenaran ilmiah tersebut boleh jadi membuka pemikiran ke arah kemajuan dalam menyelesaikan problema pendidikan dan masyarakat.
Hurlok mengemukakan bahwa penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healthy personality) memiliki karakter sebagai berikut:
1. Mampu menilai diri secara realistic
Seorang guru mampu menilai dan memahami diri apa adanya atau dapat mengenali diri dalam kelebihan dan kekurangan.
2. Peka terhadap situasi secara realistis
Harus ada pada diri seorang guru itu peka terhadap situasi secara realistis sehingga muncul sikap qanaah dalam menghadapi segala tantangan hidup.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistic, yaitu dapat menilai prestasi yang diperolehnya secara realistic dan merespon secara rasional. Dia tidak sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apalagi ketika mendapat prestasi tinggi selama hidupnya. Seorang guru yang mampu menerima segala sesuatu itu secara realistic maka dia pernah mengalami frustasi ketika gagal dalam sebuah perkara, dia tetap menghadapinya dengan tabah atau optimistic.
4. Memiliki Rasa Tanggung Jawab
Seorang guru yang sehat harus memiliki tangung jawab, mempunyai keyakinan terhadap kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian
Seorang guru harus memiliki sikap kemandirian dalam cara berfikir, bersikap dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, mengembangkan dan menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6. Dapat mengontrol Emosi
Seorang guru dapat mengotrol emosionalnya ketika menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudak frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, tidak destruktif.
7. Beorientasi Tujuan
Seorang guru harus mempunyai tujuan yang diharapkan setiap selesai melakukan tugas pengajaran, biarpun tujuan itu tidak semuanya berbentuk realistic. Selalu berupaya mencapi tujuan dengan cara mengembangkan wawasan dan ketrampilan kepada peserta didik.
8. Beorientasi Keluar
Seorang guru memiliki orientasi keluar (ekstrovert). Dia bersikap respek, empati terhadap anak didik atau orang lain, mempunyai kepedulian terhadap lingkungannya.
9. Penerimaan Sosial
Seorang guru selalu dinilai positif dri orang lain, mau berpatispasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dengan masyarakat banyak.
10. Memiliki Filsafat Hidup
Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar pada keyakinan agama.
11. Berbahagia
Seorang guru harus sehat, situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan. Kebahagiaan ini didukung oleh faktor achievement (pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection (perasaan dicintai atau disayangi orang lain).
Jika ditelusuri beberapa poin yang telah dipaparkan Hurlok di atas, adanya kemiripan dengan tingkah polah yang harus dimilki oleh seorang guru dalam Islam. Dalam Islam, guru merupakan profesi yang paling mulia, karena guru adalah salah satu tema sentral Islam, Nabi Muhammad adalah disebut sebagai ‘pendidik kemanusiaan’ (educator of mindkind), yang mempunyai tujuan, teguh, sabar dan berakhlak mulia.
Seorang guru dalam pandangan Islam, bukan hanya mengemban tugas sebagai seorang pengajar satu dua pelajaran di depan anak didik, tapi harus memiliki akhlak yang mulia.
Dr Syed Hossein Nasr dan kawan-kawan dalam, “Konperensi Pendidikan Islam Pertama” di Mekkah tahun 1977 antara lain menyimpulkan bahwa sebagai figure sentral dalam pendidikan, guru harus dapat diteladani akhlaknya di samping kemampuan keilmuan dan akademisinya. Selain itu, guru haruslah mempunyai tanggung jawab moral dan keagamaan untuk membentuk anak didiknya menjadi orang yang berilmu dan berakhlak.
Dengan demikian guru dalam konsep pendidikan Islam adalah sumber ilmu dan moral. Ia merupakan tokoh identifikasi dalam hal keluasan ilmu dan keluhuran akhlaknya, sehingga anak didiknya selalu berupaya untuk mengikuti langkah-langkahnya. Kesatuan antara kepemimpinan moral dan keilmuan dalam diri seorang guru dapat menghindarkan anak didik dari bahaya keterpecahan pribadi (split personality).
Terkait dengan masalah ini, Al-Nahlawimenjelaskan dalam melakukan pendidikan itu, paling tidak harus melakukan dua pendekatan masing-masing:

1. Pendekatan tidak disengaja
Pendekatakan ini dilakukan dengan tidak disengaja oleh seorang pendidik, karena terjadi dalam interaksi keseharian, misalnya dalam proses belajar mengajar, maupun dalam pergaulan di luar kelas. Keberhasilan tipe keteladanan, seperti keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, penampilan (performance), tingkah laku, tutur kata dan sebagainya. Dalam kondisi ini, pengaruh keteladanan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini berarti bahwa setiap orang yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt., dalam segala hal yang diikuti oleh orang lain, terutama anak didik.
2. Pendekatan yang disengaja
Pendekatan ini dilakukan dengan cara penjelasan atau perintah agar diteladani. Seperti lazimnya seorang pendidik memerintah muridnya untuk membaca, mengerjakan tugas sekolah, tugas rumah atau seorang pendidik memberi penjelasan di papan tulis kemudian ditiru oleh murid-muridnya. Pendekatan ini dilakukan agar si anak terbiasa dan terlatih dalam kedisiplinan dan keuletan dalam mempelajari ilmu pengetahuan.
Pendekatan ini adalah salah satu pendekatan yang paling sering dilakukan Nabi Muhammad saw., ketika bersama-sama dengan sahabatnya. Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan jalan mengikuti keteladanan yang diberikan Rasulullah saw., secara sengaja, seperti digambarkan dalam sebuah hadith, “Hendaklah kamu sekalian mengambil cara-cara ibadah seperti ibadahku.”
Kedua pendekatan di atas merupakan tugas yang harus dilakukan oleh guru dalam mejembatani dan transpormasi pengetahuan kepada anak didik. Namun begitu, tugas dan tangung jawab ini tidak akan bernilai guna apabila tidak mendapat dukungan dari semua pihak terutama pihak keluarga, masyarakat di samping sekolah di mana anak itu belajar.
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak dalam melakukan transportmasi ilmu dan pengetahuan secara informal. Di sini pertama sekali anak memperoleh pembentukan kepribadian yang baik, diridhai Allah swt., “Hai Orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. Al-Tahrim: 6)
Pengaruh keluarga dalam pembetukan diri anak cukup besar sehingga akan tercermin dari sikap dan gaya hidupya. Keteladanan harus ditampilkan oleh orang tua sedemikian rupa sehingga anak condong untuk meniru.
Naluri untuk menjadi orang tua secara kodrati telah dianugerahkah oleh Allah swt., kepada kedua orang tuanya. Indikator ini akan terlihat pada diri kedua orang tua itu akan muncul sifat kasih sayang terhadap anak sehingga mempunyai tangung jawab moral terhadap keberhasilan anaknya. Hasan Langgulung adalah seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa cara praktis yang patut digunakan oleh orang tua untuk menanamkan semangat keagamaan pada diri anak yaitu dengan memberi keteladanan yang baik kepada anak tentang kekuatan iman dan berpegang dengan ajaran agama.
Anak akan menjadi shalih jika keluarga yang membesarkannya juga shalih. Apapun perkembangan anak akan dipengaruhi oleh tingkah laku orang tua dalam keluarga. Anak cenderung untuk meniru, jika orang tuanya berbicara kotor demikian juga sebaliknya. Di sini akan tampak peranan penting orang tua sebagai guru pertama dalam rumah tangga.
Demikian halnya dalam segi berpakaian, orang tua harus memakai pakaian yang sopan karena hal ini akan terkait langsung dengan pendidikan anak. Terkait dengan masalah ini, Benyamin Spoek mengatakan bahwa para orang tua selalu dapat memperlihatkan kepada anak mereka dengan cara pemunculan lahiriah mereka yaitu cara mereka berpakaian, bertingkah laku bahwa mereka itu menaruh penghargaan terhadap diri mereka sendiri dan tau memperlihatkan orang lain dengan sopan. Hal ini akan banyak membantu dan sebagai dorongan moral mereka, juga memberikan kesan pelajaran yang baik sekali bagi anaknya.
Di samping faktor keluarga yang akan memberi pengaruh pendidikan terhadap anak didik, juga faktor masyarakat. Masyarakat dapat dikatakan sebagai lingkungan belajar secara informal bagi anak selain sekolah. Melalui teman dan orang-orang yang dia kenal, melalui suasana kehidupan yang dia jalani turun berperan dalam perkembangan pendidikannya.
Sebagai bagian dari masyarakat, perilaku anak sangat mudah dipengaruhi oleh pandangan dan keyakinan yang berkembang dalam masyarakat itu. Di sini anak mengenal berbagai karakter manusia yang mempunyai gaya hidup tersendiri satu sama lain. Dalam kaitan ini dapat diamati, ketika seorang anak baru saja pulang bermain dengan temannya, terlihat banyak kata-kata baru yang dijumpai dan berbeda dengan sebelumnya, ini merupakan indikator dari hasil interaksi antara dia dengan teman sepermainannya. Hal ini telah terlebih dahulu digambarkan oleh Nabi Muhammad saw., dalam sabdanya, “Perumpamaan teman baik dan teman buruk itu seperti tukang minyak wangi dan pandai besi. Adapun tukang minyak wangi bisa jadi memakaikan minyak wanginya padamu, ataupun engkau membeli darinya atau engkau memperoleh bau harumnya. Sedangnkan pandai besi bias jadi membakar pakaianmu atau engkau memperoleh bau yang tidak sedap.” (Al-Hadith)
Seorang anak akan mendapat pendengaran yang baik dengan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan sebaliknya pendengarannya benar-benar dapat terkotori jika bergaul dengan teman-teman yang tidak baik. Begitupun setelah anak menjelang usia remaja, yang dikenal sebagai masa transisi, maka orang tua harus lebih berhati-hati lagi dalam mendidik anak, orang tua harus mengawasi bagaimana dan dengan siapa anaknya bergaul.
Jika lingkungan masyarakat mempunyai kebiasaan-kebiasaan baik, seperti mempunyai moral dalam bertingkah laku, berpakaian, mempunyai semangat tinggi, dan harus tutur kata dalam berbicara, maka anak akan terbiasa mengikuti seperti halnya masyarakat. Akan tetapi jika masyarakat mempunyai kebiasan-kebiasaan buruk, tidak peduli terhadap nilai-nilai kebajikan maka juga akan memberi pengaruh langsung terhadap perilaku anak. Zakiah Darajat mengatakan, “Faktor-faktor yang menimbulkan gejala-gejala kemerosotan sosial dalam masyarakat modern sangat banyak, dan yang penting di antaranya adalah kurang tertanamnya jiwa agama (nilai-nilai kebajikan) pada tiap orang dan tidak dilaksanakan amanah dalam kehidupan keseharian, baik secara individual maupun masyarakat.”
Di samping pengaruh lingkungan terhadap perkembangan mental peserta didik, sekolah di mana ia diajarkan juga akan lebih cepat mewarnai pikiran dan merubah sikap anak didik. Pendidikan sekolah merupakan perpanjangan tangan dari keluarga sehingga perlu adanya kerja sama yang baik antara keduanya. Pendidikan yang diberikan sekolah harus sesuai dengan apa yang diberikan di dalam keluarga, begitu juga sebalaiknya. Tidak boleh ada kesenjangan dan pertentangan antara pengarahan dalam keluarga dan sekolah.
C)
D) C. Kesimpulan

Seorang guru dalam pandangan Islam, bukan hanya mengemban tugas sebagai seorang pengajar satu dua pelajaran di depan anak didik, tapi harus memiliki akhlak yang mulia. Guru dalam konsep Islam adalah sumber ilmu dan moral. Ia merupakan tokoh identifikasi dalam hal keluasan ilmu dan keluhuran akhlaknya, sehingga anak didiknya selalu berupaya untuk mengikuti langkah-langkahnya. Kesatuan antara kepemimpinan moral dan keilmuan dalam diri seorang guru dapat menghindarkan anak didik dari bahaya keterpecahan pribadi (split personality). Ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengajarkan ilmu kepada subjek didik di antaranya adalah rendah hati (tawadhuk), ikhlas, sabar, tolong menolong (ta’awun) bahwa Allah swt Maha Pendidik dan mempunyai ilmu pengetahuan yang sangat tinggi bila dibandingkan manusia.
Keteladanan guru terhadap peserta didik merupakan kunci keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak. Karena guru merupakan figur terbaik dalam pandangan anak yang akan dijadikan contoh teladan sepanjang hidupnya. Jika seorang guru memiliki sifat jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia dan menjaukan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama maka anak didik akan menjadi teladan dan akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keberadaan jiwa yang labil dan sangat mudah dipengaruhi, seorang anak akan mudah meniru apa yang dilihatnya. Mereka menghayati secara langsung tingkah laku seorang guru apalagi kalau interaksi mereka terus berkelanjutan jangka waktu dua belas tahun lamanya yaitu enam tahun di sekolah dasar dan enam tahun di sekolah lanjutan.



















DAFTAR BACAAN


Abd Al-Rahman Al-Nahlawi. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat. Bandung: Diponegoro, 1992.
Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992.
Ali Syari’ati. Membangun Masa depan Islam; Pesan Untuk Para Intelektual Muslim, cet. 2. Bandung: Mizan, 1989.
AM. Saefuddin. Fenomena Kemasyarakatan, cet. 1. Yogyakarta: Dinamika, 1996.
Azyumardi Azra. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, cet. 1. Jakarta: Logos, 1998.
Benjamin Spoek. Memberi Watak Anak. Jakarta: Gunung Jati, 1982.
Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan; Suatu analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995
Haya Binti Mubarak. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Jakarta: Darul Falah, 1998.
Hilmy Bakar Almascaty. Membangun Sistem Pendidikan Kaum Muslimin. Jakarta: Azzahra, tt.
Kholilah Marhijanto. Menciptakan Keluarga Sakinah. Gersik: Bintang Pelajar, 1998.
M. Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1987.
M. M. Rachmat Kartakusuma. Serba Pandangan Tentang Peranan Cendikiawan, “PRISMA”, NO. 9, November 1976, tahun ke v.
Mahdi Ghulsyani. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, ter. Agus Effendi. Bandung: MIzan, 1995.
Maudurrahman. The Amirican Jornal of Islamic Social Sciencies, vol. XI, No. 4. America: The Institute of Islamic Thought, 1994.
Muhammad ‘Abd al-Qadir Ahmad. Thuruq al-Tarbiyah al-Islamiyyah. Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Mishyyah, 1980.
Sayyed Ali Asyraf. New Horizon in Muslim Education. Chppenham: Anthony Rowe, 1985.
Soetjipto Wirosardjono. Cendikiawan Islam Indonesia Masa Kini, Pemikiran dan Peranannya, “Panji Masyarakat”, no. 630, 23 Rabi’ul Akhir- 2 Jumadil awal 1410 H, 21-30 desember 1989.
Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Zakiah Darajat. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental. Jakarata: Gunung Agung, tt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar