Kamis, 06 Mei 2010

DEFINISI FILSAFAT

BAB I
PENGERTIAN FILSAFAT
Pemikiran Para Ahli Filsafat Yunani Kuno
Istilah filsafat memiliki cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada
pengetahuan. Para filsuf alam mengemukakan pandangannya tentang dasar
atau asal mula segala sesuatu serta peristiwa yang terdapat dalam alam ini.
Asal atau dasar segala sesuatu ialah air menurut Thales, udara menurut
Anaximenes, api menurut Herakleitos, bilangan atau angka menurut pendapat
Phytagoras, atom-atom dan ruang kosong menurut pendapat Leukippos dan
Demokritos, dan empat unsur utama menurut pendapat Empedokles.
Pandangan lain dikemukakan oleh tiga orang filsuf besar, yaitu Sokrates,
Plato, dan Aristoteles. Bagi Sokrates yang merupakan asas hidup manusia
adalah jiwa. Plato berpendapat adanya dunia ide yang merupakan dasar dari
segala realitas yang tampak, sedangkan Aristoteles mengemukakan
pentingnya logika bagi perkembangan pemikiran manusia menuju kepada
kebenaran.
Beberapa Pandangan dan Cabang Filsafat
Pandangan idealisme menyatakan bahwa realitas yang tampak oleh indera
manusia adalah bayangan dari ide atau idea yang merupakan realitas yang
fundamental. Implikasi dari pandangan ini ialah adanya kecenderungan dari
kelompok yang mengikutinya untuk menghormati budaya dan tradisi serta
hal-hal yang bersifat spiritual. Humanisme memiliki dua arah, yakni
humanisme individu dan humanisme sosial. Humanisme individu
mengutamakan kemerdekaan berpikir, mengemukakan pendapat, dan
berbagai aktivitas yang kreatif. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian,
kesusastraan, musik, teknologi, dan penguasaan tentang ilmu kealaman.
Humanisme sosial mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan
untuk kesejahteraan sosial dan perbaikan hubungan antarmanusia. Aliran
empirisme berpandangan bahwa pernyataan yang tidak dapat dibuktikan
melalui pengalaman adalah tanpa arti. Ilmu harus dapat diuji melalui
pengalaman. Dengan demikian kebenaran yang diperoleh bersifat a posteriori
yang berarti post to experience. Para penganut rasionalisme berpandangan
bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio
(akal) seseorang. Kritisisme menjembatani kedua pandangan yaitu
rasionalisme dan empirisme. Empirisme menghasilkan keputusan-keputusan
yang bersifat sintetis yang tidak bersifat mutlak, sedangkan rasionalisme
memberikan keputusan yang bersifat analitis. Berpikir merupakan proses
penyusunan keputusan yang terdiri dari subjek dan predikat. Konstruktivisme
intinya adalah bahwa pengetahuan seseorang itu merupakan hasil konstruksi
individu melalui interaksinya dengan objek, fenomena, pengalaman, dan
lingkungannya. Filsafat dibagi dalam beberapa cabang atau bagian filsafat,
yaitu epistemologi, metafisika, logika, etika, estetika, dan filsafat ilmu.
Epistemologi membahas hal-hal yang bersifat mendasar tentang
pengetahuan. Metafisika dikemukakan oleh Andronikos dari kumpulan tulisan
Aristoteles yang membahas hakikat berbagai realitas yang diamati oleh
manusia dalam dunia nyata. Logika menekankan pentingnya penalaran
dalam upaya menuju kepada kebenaran. Etika disebut juga sebagai filsafat
moral karena menitikberatkan pembahasannya pada masalah baik dan buruk,
kesusilaan dalam kehidupan masyarakat. Estetika menekankan pada
pembahasan keindahan, sedangkan filsafat llmu membahas hakikat ilmu,
penerapan metode filsafat untuk menemukan alas realitas yang dipersoalkan
oleh ilmu.
BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat Pendidikan sebagai disiplin ilmu
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana
mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan
bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip
pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau
proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi
kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai
tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori
pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni
menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah
yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan
pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari
teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan
dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar
tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.
Beberapa Aliran Filsafat dalam Pendidikan
Beberapa aliran filsafat pendidikan yang berpengaruh dalam pengembangan
pendidikan, misalnya, idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme,
behaviorisme, dan konstruktivisme. Idealisme berpandangan bahwa
pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat
kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Tujuan pendidikan aliran ini
membentuk karakter manusia. Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat
realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya
membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan
memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Pragmatisme merupakan
kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan
positivisme. Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran
melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya
menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru
dalam kehidupan priabdi dan masyarakat. Humanisme berpandangan bahwa
pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak (child centered).
Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan pembentukan
moral. Paham behaviorisme memandang perubahan perilaku setelah
seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat
penting. Oleh sebab itu, pendidikan behaviorisme menekankan pada proses
mengubah atau memodifikasi perilaku. Tujuannya untuk menyiapkan pribadipribadi
yang sesuai dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung
jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Menurut paham
konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu
mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain
melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki
seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki
kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.
Suatu usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan pendidikan tanpa
menggunakan kearifan (wisdom) dan kekuatan filsafat ibarat sesuatu yang
sudah ditakdirkan untuk gagal. Persoalan pendidikan adalah persoalan
filsafat. Pendidikan dan filsafat tidak terpisahkan karena akhir dari pendidikan
adalah akhir dari filsafat, yaitu kearifan (wisdom). Dan alat dari filsafat adalah
alat dari pendidikan, yaitu pencarian (inquiry), yang akan mengantar
seseorang pada kearifan.
Filsafat secara ringkas berkenaan dengan pertanyaan seputar analisis
konsep dan dasar-dasar pengetahuan, kepercayaan, tindakan, dan kegiatan.
Jadi dalam filsafat terkandung pengertian dua hal, yaitu (1) analisis konsep,
dan (2) pendalaman makna atau dasar dari pengetahuan dan sejenisnya.
Dengan menganalisis suatu konsep, hakikat makna suatu kata dieksplorasi
baik secara tekstual dengan padanannya maupun juga secara kontekstual
dalam penggunaannya. Sehingga akan terkuak dimensi-dimensi moral yang
khas dalam pemakaiannya, yang membedakannya dari kata yang lainnya.
Jadi, memasukkan makna suatu kata sebagai konsep yang khas dalam
kesadaran sehingga memiliki asumís-asumsi moral guna membantunya lebih
cermat dalam fungsionalisasinya.
Analisis konseptual akan mengantar kita pada setidaknya 2 hal penting: (1)
memungkinkan kita melihat secara lebih jernih bagaimana suatu konsep
terkait tidak saja dengan konsep-konsep lainnya tetapi juga dengan bentukbentuk
kehidupan sosial yang berada pada jaringan asumsi-asumsi yang
saling bertautan seperti tanggung jawab manusia, hak-hak yang terkait
dengan kewenangan, dan peran penderitaan dalam kehidupan kita. Hal
tersebut akan mengantar kita pada pemahaman yang lebih baik tentang
kehidupan sosial kita. (2) dengan memahami struktur konseptual tertentu,
akan memungkinkan kita untuk bisa mencermati asumsi-asumsi moral terkait
isu yang ada.
FILSAFAT PENDIDIKAN
“Filsafat Pendidikan Sebagai Disliplin Ilmu”
Disusun Oleh :
Dhani Harda Setiadji 1215066091
Hari Sulistiyo 1215066109
Yusri 1215066063
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat nya kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan sebaik-baiknya.
Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas dari Bapak Zuhdy selaku dosen
mata kuliah Filsafat Pendidikan.
Filsafat Pendidikan merupakan mata kuliah yang harus di pelajari,
karena dengan filsafat pendidikan kita bisa berpikir secara mendalam dan
menyeluruh atas masalah – masalah pendidikan yang ada di Indonesia saat
ini. Pada kesempatan ini, kami menyajikan makalah tentang filsafat
pendidikan yang membahas tentang filsafat pendidikan sebagai disiplin ilmu.
Semoga apa yang kami ke depankan pada makalah ini dapat berguna bagi
pembacanya.
Bila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan atau kekurangan, kami
mohon di buka kan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Karena
kesempurnaan hanya milik Allah Swt dan kekurangan datangnya dari kami.
Maka dari itu, kami selaku penulis meminta saran dan masukan demi
kesempurnaan penulisan makalah ini.
KESIMPULAN
Falsafat filsafat sebagai disiplin ilmu ialah selalu bertanya untuk mendapatkan
kebenaran! Kata "Bertanya" adalah dasar dari pengembangan Ilmu
Pengetahuan, ilmu apapun. Dari Pertanyaan-pertanyaan yang ada,
melahirkan metode-metode/teory-teory pengembangan dan penelitian untuk
mengetahui suatu kebenaran (lahirnya Sosiologi, Antropologi, Hukum,
Matematika, ilmu fisika, kimia, ilmu kemiliteran, ketatanegaraan dst). Ini dasar
berfikir FILSAFAT.
Dalam Memahami filsafat sering kali kita terjebak dalam teory-teory (pada
umunnya, karena tugas-tugas dan juga karena sistem mempelajari filsafat di
Tanah air lebih banyak mengarah pada menghafal teory-teory dan rumusanrumusan
para filosofis) sementara dalam tatanan praktis-praksis pragmatis
porsinya sangat sedikit, akibat dari itu paham dan pengertian berfilsafat baru
pada tatanan kognitif, belum pada tatanan praktis-praksis pragmatis....filsafat
pendidikan baik di sekolah Dasar sampai pada Perguruan Tinggi seharusnya
mengarahkan peserta didik pada paham praktis-praksis pragmatis bukan
pada tatanan menghafal (kognitif belaka)!
Filsafat pendidikan memang suatu disiplin yang bisa dibedakan tetapi tidak
terpisah baik dari filsafat maupun juga pendidikan, ia beroleh asupan
pemeliharaan dari filsafat. Ia mengambil persoalannya dari pendidikan,
sedangkan metodenya dari filsafat. Berfilsafat tentang pendidikan menuntut
suatu pemahaman yang tidak hanya tentang pendidikan dan persoalanpersoalannya,
tetapi juga tentang filsafat itu sendiri. Filsafat pendidikan tidak
lebih dan tidak kurang dari suatu disiplin unik sebagaimana halnya filsafat
sains atau sains yang disebut mikrobiologi.
DAFTAR PUSTAKA
· P.H. Hirst & R.S. Peters. The Logic of Education. London: Routledge &
Kegan Paul, 1972.
· Charles J. Braunes & Hobert W. Burns. Problems in Education and
Philosophy. New York: Prentice-Hall Inc., 1965.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar